Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pasar yang besar serta salah satu dari dua puluh kekuatan ekonomi besar dunia (G20). Sebagai negara berkembang, Indonesia memerlukan investasi untuk mengembangkan kekuatan ekonomi yang didukung dengan kebijakan stratgis. Kebijakan pegelolaan sector keuangan negara menjadi bagian penentu percepatan laju pertumbuhan ekonomi Negara berkembang seperti Indonesia. Beberapa bulan terakhir keuangan Negara menjadi sorotan utama beberapa ekonom, alasannya tidak lain karena utang luar negeri naik mencapai 4.000 triliun, "Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018 bulan Februari menembus angka Rp 4.034,8 triliun dan pada APBN 2018 mencapai Rp 4.772 triliun," INDEF (kompas.com). kondisi ini kemudian menimbulkan perdebatan berbagai kalangan (politisi, ekonomi dan masyarakat) sendiri. Maka dari itu penulis tergerak untuk sekedar memberikan pemahaman tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap utang luar negeri yang naik ?...
Populasi orang cina
Berdasarkan sensus di masa Hindia Belanda, populasi
Tionghoa-Indonesia mencapai 1.233.000 (2,03%) dari penduduk Indonesia di tahun
1930. Tidak ada data resmi mengenai jumlah populasi Tionghoa di Indonesia dikeluarkan
pemerintah sejak Indonesia merdeka. Namun ahli antropologi Amerika, G.W.
Skinner, dalam risetnya pernah memperkirakan populasi masyarakat Tionghoa di
Indonesia mencapai 2.505.000 (2,5%) pada tahun 1961.
Dalam sensus penduduk pada tahun 2000, ketika untuk
pertama kalinya responden sensus ditanyai mengenai asal etnis mereka, hanya 1%
dari jumlah keseluruhan populasi Indonesia mengaku sebagai Tionghoa. Perkiraan
kasar yang dipercaya mengenai jumlah suku Tionghoa-Indonesia saat ini ialah
berada di antara kisaran 4% - 5% dari seluruh jumlah populasi Indonesia.
Ramainya interaksi perdagangan di daerah pesisir tenggara Cina, menyebabkan
banyak sekali orang-orang yang juga merasa perlu keluar berlayar untuk
berdagang. Tujuan utama saat itu adalah Asia Tenggara. Karena pelayaran sangat
tergantung pada angin musim, maka setiap tahunnya para pedagang akan bermukim
di wilayah-wilayah Asia Tenggara yang disinggahi mereka. Demikian seterusnya
ada pedagang yang memutuskan untuk menetap dan menikahi wanita setempat, ada
pula pedagang yang pulang ke Cina untuk terus berdagang.
Fungsi
orang Tionghoa dalam dunia perekonomian telah terasa berabad-abad yang lampau.
Fungsi ini erat berhubungan dengan jati diri suatu wirausaha di bidang
perekonomian. Di samping itu konteks interaksi sosial budaya dan politis yang
telah berabad-abad lamanya, akan mengkristal memupuk jati diri seorang Tionghoa
di
tanah
air dan masyarakat besar Indonesia. Barang tentu ini bersifat positif atau pun
negatif bagi suatu komunitas tertentu. Suatu contoh dengan aplikasi pada
interaksi etnik di Surabaya, melengkapi pemikiran kontekstual ini. Proyeksi
untuk menanggulanginya menjadi tugas bersama pada aspek perekonomian bangsa
antara masyarakat dan pemerintah.
Inilah awal peran padagang
Tionghoa apabila disimak secara modern. Kecenderungan dan keterlibatan
orang Cina dalam bidang perdagangan sulit ditandingi oleh bangsa bangsa lain.
Mereka memilki keistimewaan dan keteramplian tersendiri sehingga menjadikan
mereka golongan pedagang yang handal serta disegani kawan dan lawan. Sekilas
terlihat bahwa orang Cina seperti dilahirkan untuk berdagang. Mereka bukan saja
berbakat, melainkan juga terampil mengendalikan setiap urusan perdagangan mulai
dari tahapan perundingan sampai proses penjualan dan mengurus keuangan. Bakat
itu sebenarnya tidak dianugerahkan kepada mereka begitu aja. Orang Cina
memperolehnya melalui waktu yang lama dan harus menghadapi segala kesulitan
dalam perdagangan.(Salim, Ansori, 2008 : 10)
PERUBAHAN ETOS KUNFUSIANISME MENJADI JIWA WIRAUSAHA
Perubahan berdasar modernisme dengan
basis konfusianisme tersebut menarik untuk ditelaah lebih lanjut.
Menurut Suryadinata hal ini berkembang ketika arus wirausaha ini harus bertemu
dengan arus wirausaha dari Barat dengan Kolonialisme dan Imperialisme.
Malahan pada awal abad ke-20 harus ber-osmose dengan Liberalisme dan
Globalisme dalam bentuk Kapitalisme Modern. Ternyata etika Konfusianisme
tersebut dapat meresap berdasar pada ajaran-ajaran Barat. Contoh-contohnya
sebagai berikut. Menurut Herman Kahn, muncul dari kombinasi ini ciri-ciri
bekerja keras, harmonisasi, hormat pada orang tua, koordinasi
kerjasama, tidak menonjolkan pribadi dan tidak egois (Kahn, 1974:121-123). Hal ini
tenyata lebih unggul daripada Etika Protestan karena orang akan lebih setia pada organisasi,
dedikasi, dan kewajiban pada organisasi dan masyarakat. Menurut Peter L. Berger, Konfusianisme
ada dua jenis. Yang pertama, Konfusianisme elite yang menghambat
modernisasi negara dan yang kedua, Konfusianisme rakyat yang mendorong pada modernisasi.
Ciri-ciri konfusianisme rakyat antara lain ialah positif pada kerja, pragmatis, berdisiplin,
dan keluarga yang stabil (Suryadinata, 2002:205). Inilah penyebab majunya ekonomi di Asia
Timur dan wirasusaha di Indonesia. Dari tahun ke tahun orang cina
sudah banyak menjahrah kemana mana dan banyak yang berhasil soal dalam
perdagangan.
Penelitian sederhana ini ingin
melihat, sampai di mana kedalaman peran orang Tionghoa dalam perdagangan,
industri dan hidup perekonomian masyarakat. Akan ditelaah lebih mendalam
tentang peran orang Tionghoa secara basis data mereka dari suatu tahun sesudah
sensus 1930, kemudian peran mata pencaharaian orang Tionghoa Indonesia tahun
1930 – 1986 dalam bentuk lajur-lajur dinamika perubahan kepemilikan yang
terjadi.
Daearah yang diteliti
Sebagian besar dari
orang-orang Tionghoa di Tarakan menetap di Kampung Bugis. Adapun tempat yang
lainnya, taia agak jarang.
Rumusan
Masalah
Plaza Araya merupakan perusahaan jasa yang bertujuan untuk melayani
kebutuhan masyarakat. Dalam kegiatannya, PlazaAraya banyak dihadapkan dengan
berbagai permasalahan,seperti
pesaingan antar sesama plaza, keterbatasan dana,keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan sarana danprasarana,
dan berbagai permasalahan lainnya, sehinggaoperasional Plaza Araya kurang
optimal. Untuk itu diperlukanpengukuran
kinerja strategi perusahaan agar dapatmengevaluasi kinerja plaza araya selama
ini sehingga dapatditetapkan strategi yang tepat kedepannya. Secara
spesifik permasalahan yang diteliti didalam plaza Araya
adalahmengenai “Bagaimana
kinerja strategi Plaza Araya dilihatdari
pengukuran perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif
bisnis internal, dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran dalam
menetapkanstrategi perusahaan ? “
,
Serbuan
produk impor China tak tertahankan lagi. Setelah keikutsertaan Indonesia
dalamkesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) berlaku efektif awal
tahun 2010,arus masuk produk impor China terus menunjukkan peningkatan.
Tercatat nilai impor sektor non migas dari China sepanjang Januari hingga
Oktober 2010 mencapai US$ 15,913 miliar.Meningkat US$ 5,161 miliar atau 48%
dibandingkan nilai impor periode yang sama tahunsebelumnya yang sebesar US$
10,752 miliar (Kontan, 02 Desember 2010) Akibatnya
pasar nasional banyak dibanjiri produk impor China.Celakanya, serbuan
produk impor China berpotensi mengancam eksistensi produk usahamikro, kecil dan
menengah (UMKM) di pasaran. Seperti diketahui, produk impor Chinabanyak
memiliki keunggulan dibanding produk UMKM.
Selain harganya lebih murah,produk
impor China memiliki banyak varian dan model yang menarik.
Dikhawatirkanmasyarakat akan lebih memilih produk impor China daripada produk
UMKM.Hal ini harus segera diantisipasi. Jika tidak, sedikit demi sedikit
keberadaan produk UMKMdi pasaran akan hilang dan digantikan oleh barang impor
China.Menurut penulis, ada beberapa faktor yang menyebabkan produk UMKM kalah
bersaingdengan produk impor China.Pertama, rendahnya
penguasaan teknologi produksi oleh pelakuUMKM. Hingga saat ini masih banyak
pengusaha UMKM yang melakukan proses produksisecara manual dengan sistem yang
tradisonal. Hal ini membuat produktifitas menjadi rendahdan sebaliknya biaya
produksi menjadi tinggi.
Akibatnya harga produk UMKM di pasar menjadi
tidak kompetitif. Selain itu waktu pengerjaan juga menjadi lebih lama
sehinggaseringkali tidak bisa memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Kedua, lemahnya
penguasaan teknologi informasi. Hal ini membuat sistem administrasi
danmanajemen keuangan UMKM menjadi lemah. Akibatnya operasional dan
manajemenUMKM tidak berjalan efektif dan efisien. Ketiga, terbatasnya
jaringan atau network yang
dimiliki UMKM. Hal ini menyebabkan UMKM tidak maksimal dalam melakukan promosi dan
pemasaran produk. Sehingga Rumusan
Masalah: Tulisan ini akan menyoroti tentang: 1. Sejauh mana respon pemerintah dan
pengusaha lokal dalam menanggapi“hegemoni produk Cina di pasar lokal” pasca
ratifikasi ACFTA? 2. Apa saja faktor yang menghambat perkembangan produk lokal
sehingga kalahsaing dengan produk Cina? 3. Apa rekomendasi solutif untuk membuat
Indonesia bisa “survive” dalam arenapertarungan dengan Cina tersebut?

Comments