Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pasar yang besar serta salah satu dari dua puluh kekuatan ekonomi besar dunia (G20). Sebagai negara berkembang, Indonesia memerlukan investasi untuk mengembangkan kekuatan ekonomi yang didukung dengan kebijakan stratgis. Kebijakan pegelolaan sector keuangan negara menjadi bagian penentu percepatan laju pertumbuhan ekonomi Negara berkembang seperti Indonesia. Beberapa bulan terakhir keuangan Negara menjadi sorotan utama beberapa ekonom, alasannya tidak lain karena utang luar negeri naik mencapai 4.000 triliun, "Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018 bulan Februari menembus angka Rp 4.034,8 triliun dan pada APBN 2018 mencapai Rp 4.772 triliun," INDEF (kompas.com). kondisi ini kemudian menimbulkan perdebatan berbagai kalangan (politisi, ekonomi dan masyarakat) sendiri. Maka dari itu penulis tergerak untuk sekedar memberikan pemahaman tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap utang luar negeri yang naik ?...
Diantara
banyaknya pemikiran HMI tentang berbagai
bidang kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, maka pemikiran politik
sebenarnya adalah sesuatu yang paling menarik. HMI connection sebagai
wacana politik yang pertama kali dilontarkan sejumlah politisi partai
kebangkitan bangsa (PKB) dan pendukung mantan presiden Abdurahman Wahid (Gus
dur) sekitar tahun 2000. Ketua Umum PB HMI, M. Fakhruddin yang memainkan peran
sebagai oposisi kekuasan Gus dur, dipandang sebagai turunan sikap politik HMI
Connection.
Pasca
pembaharuan sistem perkaderan dan lahirnya Nilai Dasar Perjuangan (NDP) tahun
1969 mendorong semakin kuatnya partisipasi politik HMI. NDP sudah dimulai
dianggap sebagai “ideologi politik” yang mengubah orientasi dari orientasi
pemikiran ke-islaman kepada pemikiran politik kenegaraan. Konstruksi pemikiran
NDP juga secara tidak langsung merupakan dampak deal politik (perjanjian
politik) antara Dahlan Ranuwiraharjo (senior HMI) dengan presiden Soekarno di
Istana Negara, pada 3 juli 1964. Salah satu point deal politiknya adalah
diberikannya kebebasan HMI untuk melakukan kaderisasi dan pendidikan politik
bagi kader-kadernya.
Greg barton, Indonesianis
dari Australia, menjabarkan gagasan pembaharuan pemikiran islam ke dalam
pemikiran operasional sebagai berikut, “pentingnya prinsip-prinsip moral, peradaban
dan ilmu pengetahuan masa lalu peran para intelektual”. William Liddle
juga mengatakan bahwa sikap nurcholis madjid yang mengunkapkan slogan “islam
yes partai islam no” adalah semboyan yang paling tepat dikalangan islam
indonesia menuju pemerintahan yang demokratis, efektif, dan stabil. Sikap
politik itu lah yang mendorong efektivitas peran di arena politik, termasuk
badan legislatif dan birokrasi.
HMI dan Strategi Tengah
Mulai pada
dekade 1970-an, HMI mengalami kematangan dalam orientasi politiknya dan
menemukan kesamaan antara pembangunan dan modernisasi Orde Barii dengan Visi
politi HMI yang cenderung ke-tengah. Hal ini terlihat dari kongres X HMI yang
memilih Akbar Tandjung sebagai ketum PB HMI. HMI merekomendasikan agar adanya
kesinambungan antara pembangunan ekonomi dan pembangunan politik. Usaha untuk
merealisasikan visi politik seperti itu, HMI memberikan solusi diman pemerintah
haruslah kuat dan bersih (strong and clean government).
Bagi HMI
dekade 1970-an, diperlukan pembaharuan struktur politk yang dapat ditempuh
melalui dua cara pendekatan. Pertama, sistem mobilisasi dan rekonsiliasi
politik seperti sistem politik dan kepartaian tunggal ala China. Kedua, model
eropa barat dalam membangun ekonomi dan demokrasinya. HMI mengusulkan kepada
pemerintah Orde Baru agar melakukan beberapa tindakan strategis dalam
menciptakan prakondisi kearah:
1. penyederhanaan
partai politik dengan menfungsikan partai politik secara wajar.
2. Pembinaaan
massa mengembang (floating mass) agar pembangunan menciptakan karakter bangsa.
HMI dengan jelas sekali mendefenisikan
demokrasi politik sebagai seluruh timbal balik, baik pemerintah maupun kelompok
masyarakat untuk memberikan peran maksimal dan adil terhadap pranatapolitik
resmi dan organisasi sosial yang tumbuh ditengah masyarakat. Disamping itu
HMI juga mendukung pluralisme dan menolak monolitisme. HMI memahami dimensi
demokrasi secara menyeluruh yakni demokrasi politik, demokrasi pendidikan,
sosial, hukum, dan ekonomi.
Berbagai
pemikiran politik dan demokrasi HMI tersebut mendorong sikap-sikap politik HMI
yang bersifat akomodasional dengan negara. Mengingat negara merupakan tempat
dan arena pengandian dan kiprah yang penting. Dalam aktualisasi peran
politiknya, HMI turut mendirikan dan satu-satunya komponen mahasiswa yang
membidani lahirnya Sekber Golkar, melakukan aliansi taktis denga kekuatan
militer dan mengambil momentum yang dibuka presiden soeharto saat itu untuk
mengisi struktur kekuasaan.
Dengan
demikian, HMI cenderung melakukan politik tengah (middle way politics)
denga melakukan akomodasionis dalam merespon
dan menghadapi dinamika politik yang ada. Model perilaku politik
seperti itulah yang mengantarkan HMI
Connection bisa mendominasi berbagai lembaga-lembaga sosial politik di
negeri ini. konsep independensi etis HMI juga membebaskan kader HMI untuk
memilih dan mengambil berbagai peran apa saja yang sesuai dengan momentum,
minat dan orientasi masa depan politiknya. Di panggung politk praktis ditingkat
nasional maupun lokal dapat kita saksikan dimana begitu banyak jaringan alumni
HMI yang menjadi kekuatan penentu atau memimpin partai politik.
Hingga saat
inipun, HMI Connection itu masih bisa mewarnai dunia politik bai di
partai-partai politik maupun di struktur pemerintahan secara luas. Tampilnya
Anas Urbaningrum (mantan Ketua Umum PB HMI periode 1997-1999) sebagai ketua
Umum DPP partai Demokrat dapat dilihat sebagai kemampuan Anas Urbaningrum
menafsirkan dirinya secara tepat ditengah partai politik Demokrat yang sedang
mengalami pertumbuhan dan modernisasi sebagai the presidential party. Disamping
itu, pemanfaatan dukungan dari jaringan alumni HMI mutlak terjadi, mengingat
Anas Urbaningrum merupakan tokoh politik muda terbaik yang dimiliki HMI sebelum
Kongres Partai Demokrat Di Bali, lima
tahun lalu (pada tahun 2005), sejumlah komponen Demokrat sudah memprediksikan
hadirnya figur Anas yang akan berkesinggungan dengan dukungan moral dan politik
HMI
Connection.
Satu hal yang
perlu dijelaskan bahwa strategi politik yang selalu dijunjung tinggi oleh HMI
Connection dalam setiap kesempatan berpolitiknya adalah strategi politik tengah
(middle
way political strategy). HMI cenderung menghindari politik yang
bersifat ekstrem Kiri dan Kanan. Mengingat bahwa dalam setiap pertarungan
politik atau suksesi politik termasuk kepartaian di Indonesia juga memperlihatkan hal itu.
Jadi menurut hemat saya, apa yang dilakukan
HMI Connection itu adalah suatu tindakan politik yang
alamiah, bahwa tujuan utama kelompok politik yang adalah menjadi pemenang dalam
pertarungan politik. Karena itu sangat diperlukan adanya pegangan moralitas dan
idealisme politik yang kuat agar tetap mencirikan sebagai politisi yang sesuai
dengan cita-cita HMI, terciptanya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT
dalam kerangka demokrasi indonesia modern.
Sumber :
Gagasan Jurnal Vol.1 No. 1 Thn 2010

Comments