Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pasar yang besar serta salah satu dari dua puluh kekuatan ekonomi besar dunia (G20). Sebagai negara berkembang, Indonesia memerlukan investasi untuk mengembangkan kekuatan ekonomi yang didukung dengan kebijakan stratgis. Kebijakan pegelolaan sector keuangan negara menjadi bagian penentu percepatan laju pertumbuhan ekonomi Negara berkembang seperti Indonesia. Beberapa bulan terakhir keuangan Negara menjadi sorotan utama beberapa ekonom, alasannya tidak lain karena utang luar negeri naik mencapai 4.000 triliun, "Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018 bulan Februari menembus angka Rp 4.034,8 triliun dan pada APBN 2018 mencapai Rp 4.772 triliun," INDEF (kompas.com). kondisi ini kemudian menimbulkan perdebatan berbagai kalangan (politisi, ekonomi dan masyarakat) sendiri. Maka dari itu penulis tergerak untuk sekedar memberikan pemahaman tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap utang luar negeri yang naik ?...
Jadi
Mahasiswa Kok Setengah-tengah Sih,,..?
Aktivis dan
Non Aktivis Mahasiswa
Mengapa sebuah gerakan mahasiswa dapat
berlangsung, dan siapa yang menggerakkannya? Pertanyaan-pertanyaan yang
sebenarnya sederhana, tapi tidak mudah untuk menjawabnya. Sarlito Wirawan Sarwono (1978) mencoba menjawab lebih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan gerakan mahasiswa tersebut dengan
melakukan sebuah penelitian yang merupakan tesis doktoral pada Universitas
Indonesia. Sarlito menggunakan istilah “gerakan
protes” untuk menyebut aktivitas mahasiswa tesebut. Ia memulai risetnya
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan:
1. Mengapa gerakan protes mahasiswa terjadi?
Faktor-faktor apa yang menentukan timbulnya gerakan protes?
2. Mahasiswa-mahasiswa manakah yang aktif
berpartisipasi dalam gerakan-gerakan protes itu? Ciri-ciri psikologis apa yang
membedakan mahasiswa-mahasiswa aktivis ini dari mahasiswa-mahasiswa non-aktivis
lainnya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini
sebenarnya juga telah ada dalam penelitian lain yang lebih dahulu, yang juga
mempersoalkan hal yang sama, seperti yang telah dilakukan oleh Altbach, Lipset,
Keniston, Feuer, dan Shimbori. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut
lebih banyak bersifat penelitian sosiologis, dan bukan penelitian psikologis
dan belum ada satu pun yang dilakukan di Indonesia.
Untuk membandingkan
mahasiswa-mahasiswa yang pernah ikut dalam gerakan protes, Sarlito membagi
mahasiswa dalam tiga jenis, yaitu:
1. Aktivis: mahasiswa yang pernah ikut dalam
suatu gerakan protes (minimum sekali)
2. Pemimpin: mahasiswa yang pernah memprakarsai
atau mengorganisir suatu gerakan protes (minimum sekali)
3. Non-aktivis: mahasiswa yang tidak pernah ikut
sama sekali dalam gerakan protes.
Lanjut bro
di lembaran berikutnya,,,...
Penelitian yang berangkat dari hipotesa deprivasi relatif Gurr
menghasilkan analisis yang sangat menarik. Pemimpin mempunyai beberapa sifat
yang sama dengan aktivis dan mempunyai beberapa sifat lain pula yang sama
dengan non-aktivis. Tetapi antara
aktivis dan non aktivis hampir tidak dapat ditemukan persamaan-persamaan.
Nampaknya hal ini memang wajar, yaitu seorang pemimpin memerlukan simpati dan
dukungan dari semua pengikutnya, yang dalam hal ini terdiri dari aktivis maupun
non-aktivis. Sebaliknya, aktivis tidak selalu mempunyai persamaan dengan
non-aktivis karena aktivis pada dasarnya bergiat menurut garisnya sendiri, tidak
membutuhkan pengikut. Pemimpin dan aktivis sama-sama merasa lebih pandai dari
mahasiswa lainnya, duduk di tingkat yang lebih tinggi, lebih tua, lebih
berpengalaman, kritis dan agresif. Mereka datang dari the pattern setting group
atau kelas menengah ke atas. Pemimpin
dan aktivis relatif lebih banyak di perguruan-perguruan tinggi swasta dan
kota-kota besar.
Tulisan ini
di post oleh : @NGOPI Insane Cita.
Comments