Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pasar yang besar serta salah satu dari dua puluh kekuatan ekonomi besar dunia (G20). Sebagai negara berkembang, Indonesia memerlukan investasi untuk mengembangkan kekuatan ekonomi yang didukung dengan kebijakan stratgis. Kebijakan pegelolaan sector keuangan negara menjadi bagian penentu percepatan laju pertumbuhan ekonomi Negara berkembang seperti Indonesia. Beberapa bulan terakhir keuangan Negara menjadi sorotan utama beberapa ekonom, alasannya tidak lain karena utang luar negeri naik mencapai 4.000 triliun, "Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018 bulan Februari menembus angka Rp 4.034,8 triliun dan pada APBN 2018 mencapai Rp 4.772 triliun," INDEF (kompas.com). kondisi ini kemudian menimbulkan perdebatan berbagai kalangan (politisi, ekonomi dan masyarakat) sendiri. Maka dari itu penulis tergerak untuk sekedar memberikan pemahaman tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap utang luar negeri yang naik ?...
Menurut (Kotler, 2007)
merek adalah nama, istilah, tanda, simbol
rancangan, atau kombinasi
yang dapat mengidentifikasikan
barang atau jasa dari seorang atau
sekelompok penjual agar dapat membedakan
produk tersebut dari
produk pesaing. Hal ini
sesuai dengan yang dikemukakan (Manurung, 2009) bahwa merek merupakan nama atau
simbol yang bersifat membedakan
(seperti sebuah logo, cap atau kemasan)
dengan maksud mengidentifikasi barang
atau jasa dari seorang penjual
atau sekelompok penjual
tertentu, dengan demikian membedakannya dari barang-barang
atau jasa yang dihasilkan para kompetitor.
Pada dasarnya merek
bukan hanya nama, tanda, logo ataupun simbol yang membedakan suatu
produk dengan produk
lainnya, tetapi merek adalah
”janji” seorang penjual kepada
para konsumen. Hal
ini ditegaskan oleh (Budiman, 2004) bahwa merek mengandung janji
perusahan untuk secara konsisten memberikan
ciri, manfaat dan
jasa tertentu pada
konsumen. Merek lebih dari
sekedar jaminan kualitas
karena didalamnya tercakup
paling tidak enam pengertian, yaitu: atribut produk, manfaat, nilai,
budaya, kepribadian dan pemakai. Selain
sebagai nama, logo
dan simbol, merek
juga mempunyai makna yang
berbeda-beda bagi para
produsen. Menurut Kertajaya
(2002), perusahaan memiliki cara yang
berbeda-beda dalam memandang merek. Hal itu tergantung pada tipe pemasaran yang
digunakan oleh perusahaan tersebut.
Berdasarkan definisi
diatas dapat disimpulkan
bahwa merek merupakan sebuah
nama, istilah, simbol,
desain maupun kombinasinya yang
dimaksudkan untuk membedakan suatu
produk dari produk
yang dihasilkan kompetitor-kompetitor yang
ada dan lebih
mengarah kepada identitas
produk serta janji berupa bentuk, pelayanan dan keuntungan
kepada para konsumen. Nilai-nilai yang terdapat pada merek menurut (Manurung,
2009) menyatakan bahwa merek memiliki
tiga nilai yaitu nilai fungsional, nilai emosional dan nilai ekspresi diri:
1. Nilai
Fungsional
Nilai fungsional
adalah nilai yang
diperoleh dari atribut
produk yang memberikan kegunaan fungsional kepada
para konsumen. Dimana nilai ini
berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau jasa kepada
konsumen.
2. Nilai
Emosional
Nilai emosional
berhubungan dengan perasaan,
yaitu perasaan positif apa yang akan dialami oleh konsumen
pada saat membeli produk. Jika konsumen
mengalami perasaan positif
pada saat membeli
atau menggunakan suatu merek,
maka merek tersebut
memberikan nilai emosional kepada
konsumen.
3. Nilai
Ekspresi Diri
Nilai ekspresi
diri adalah pikiran
individu tentang bagaimana
dirinya diamata orang lain maupun
bagi dirinya sendiri. Nilai ekspresi
diri ini berpusat pada
publik. Dengan kata
lain nilai ekspresi
diri mencari jawaban atas
jati diri seseorang.
Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan bahwa
nilai yang terkandung
dalam suatu merek adalah nilai fungsional, nilai emosional dan
nilai ekspresi diri.
Loyalitas merek sudah
lama menjadi gagasan sentral
dalam pemasaran. Dimana loyalitas merek merupakan satu
ukuran keterkaitan seorang konsumen pada
sebuah merek (Manurung, 2009). Ini mencerminkan bahwa seorang konsumen yang
loyal terhadap suatu merek
tidak akan dengan mudah
memindahkan pembeliannya ke
merek lain, apapun
yang terjadi dengan merek
tersebut. Konsumen yang
loyal pada umunya
akan melanjutkan pembelian merek
tersebut walaupun dihadapkan
pada berbagai alternatif merek
produk pesaing yang
menawarkan karakteristik produk
yang lebih unggul dipandang
dari berbagai sudut
atributnya (Durianto, dalam Manurung,
2009).
Giddens (2002) menyatakan bahwa
loyalitas merek adalah
pilihan yang dilakukan konsumen untuk
membeli merek tertentu dibandingkan merek yang lain dalam satu kategori produk.
Sedangkan (Manurung, 2009) mendefinisikan loyalitas merek sebagai preferensi konsumen secara
konsisten untuk melakukan pembelian
pada merek yang sama pada produk yang spesifik atau kategori
pelayanan tertentu. (Manurung, 2009)
menambahkan bahwa loyalitas merek merupakan representasi
dari sikap menyenangi sebuah merek yang menimbulkan pembelian ulang
terhadap merek yang sama.
Walaupun
demikian, loyalitas merek berbeda dengan
perilaku pembelian berulang (repeat
purchasing behavior). Perilaku
pembelian berulang adalah tindakan pembelian
berulang pada suatu
produk atau merek
yang lebih dipengaruhi oleh
faktor kebiasaan. Dalam
loyalitas merek, tindakan
berulang terhadap merek
tersebut dipengaruhi oleh
kesetiaan terhadap merek. Sedangkan (Manurung, 2009) menyebutkan
bahwa loyalitas merek adalah kelekatan
konsumen pada nilai yang tinggi dari suatu merek, dengan kelekatan yang
dibangun ini maka konsumen akan menolak segala
strategi yang dilakukan oleh kompetitor
merek. (Manurung, 2009) menyatakan
bahwa konsep loyalitas
tidak absolut dimanifestasikan dari perilaku konsumen saja. Menurutnya
loyalitas meliputi perasaan afeksi, kesetiaan dan komitmen. Konsumen
yang loyal terhadap
suatu merek tertentu
memilikisikap yang positif dan setia terhadap merek tersebut. Menurut
Darmadi Durianto (dalam Manurung, 2009), loyalitas merek
merupakan suatu ukuran
keterkaitan konsumen kepada
sebuah merek.
Berdasarkan definisi
diatas dapat disimpulkan
bahwa loyalitas merek merupakan suatu
sikap positif dan
kelekatan seorang konsumen
pada sebuah merek dimana
konsumen memilih untuk membeli merek tertentu
dibandingkan merek yang lain dalam satu kategori produk secara
konsisten. Menurut Giddens (2002),
konsumen yang loyal
terhadap suatu merek memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Memiliki
komitmen pada merek tersebut.
2. Berani membayar
lebih pada merek
tersebut bila dibandingkan dengan merek yang lain.
3. Akan
merekomendasikan merek tersebut pada orang lain.
4. Dalam melakukan
pembelian kembali produk
tersebut tidak melakukan pertimbangan.
5. Selalu
mengikuti informasi yang berkaitan merek tersebut.
6. Mereka dapat
menjadi semacam juru
bicara dari merek
tersebut dan mereka selalu
mengembangkan hubungan dengan merek tersebut.
Berdasarkan uraian
diatas dapat disimpulkan
bahwa ciri-ciri konsumen yang
loyal terhadap suatu
merek adalah memiliki
komitmen terhadap suatu merek,
berani membayar lebih
terhadap merek tersebut,
merekomendasikan merek
tersebut pada orang
lain, akan melakukan
pembelian ulang, selalu mengikuti informasi
yang berkaitan dengan
merek dan menjadi
semacam juru bicara dari merek
tersebut.
Dalam kaitannya
dengan loyalitas merek suatu
produk, didapati adanya beberapa tingkatan loyalitas merek. (Manurung, 2009) membagi
tingkatan loyalitas merek kedalam lima tingkatan, yaitu:
1. Switcher
Merupakan
tingkatan loyalitas yang paling dasar dimana pembeli tidak peduli pada
merek, sama sekali
tidak tertarik pada
merek–merek apapun dianggap memadai,
dan suka berpindah
merek. Dengan demikian merek
memainkan peranan yang
kecil dalam keputusan pembelian. Apapun yang diobral atau
menawarkan kenyamanan akan lebih
disukai. Motivasi mereka berpindah
merek adalah harga
yang rendah karena golongan
ini memang sensitif
terhadap harga (price
sensitive switcher). Pembeli tipe ini mungkin bisa diistilahkan sebagai
pembeli harga atau pengalih.
2. Habitual
buyer
Pada tingkatan
ini pembeli setia
terhadap suatu merek dimana
dasar kesetiaannya bukan kepuasan
atau keakraban dan
kebanggaan. Merupakan pembeli yang puas terhadap suatu produk,
setidaknya tidak merasa dikecewakan oleh merek tersebut. Dan dalam membeli
produk didasarkan pada faktor kebiasaan,
bila menemukan merek yang lebih bagus, maka mereka akan berpindah. para
pembeli pada tingkatan ini sulit
dirangkul karena tidak
ada alasan bagi
mereka untuk memperhitungkan
berbagai alternatif.
3.
Satisfied
buyer
Pada tingkatan
ini pembeli puas
dengan suatu merek. Mereka setia, tetapi dasar kesetiaannya bukan pada
kebanggaan atau keakraban pada suatu merek tetapi lebih didasarkan pada
perhitungan untung rugi atau biaya
peralihan (switching cost), baik
biaya dalam waktu, uang
atau resiko kinerja, bila melakukan pergantian ke merek lain. Untuk
menarik minat pembeli
yang berada pada
tingkatan ini, para kompetitor perlu
mengatasi biaya peralihan
dengan menawarkan bujukan untuk beralih
atau dengan tawaran suatu manfaat yang cukup besar sebagai kompensasi.
4. Liking
the brand
Pada tingkatan
keempat ini, pembeli
sungguh-sungguh menyukai
merek tersebut. Prefensi
mereka mungkin dilandaskan
pada suatu asosiasi; seperti
suatu simbol, rangkaian
pengalaman dalam
menggunakan, atau kesan
kualitas (perceived quality) yang
tinggi. Pada tingkatan ini,
kecintaan pada produk
baru terbatas pada komitmen
terhadap diri sendiri,
dan mereka merasa
akrab dengan merek. Berbagai
segmen pada tingkat
keempat ini disebut
sebgai teman-teman dari merek (friends
of the brand)
karena terdapat perasaan
emosional yang terkait.
5. Commited
buyer
Merupakan tingkatan
teratas dimana para
pembeli setia dan
merasa bangga pada terhadap
suatu produk. Mereka
mempunyai suatu kebanggaan dalam
menemukan atau menjadi
pengguna dari suatu merek.
Merek tersebut sangat
penting bagi mereka
baik dari segi fungsinya maupun
sebagai suatu ekspresi
mengenai siapa mereka sebenarnya. Rasa
percaya diri mereka
termanifestasi pada tindakan semacam merekomendasikan merek
tersebut pada orang
lain. Nilai dari pembeli
yang berkomitmen tersebut
tidaklah begitu besar
pada perusahaan, tetapi lebih
kepada dampak terhadap
orang lain dan terhadap
pasar itu sendiri.
Kelima tingkatan ini
dibuat dengan melakukan
penyederhanaan. Dengan kata lain,
kelimanya tidak selalu muncul dalam
bentuk yang murni
dan tidak tertutup
kemungkinan mengkonseptualisasikan dalam bentuk lain. Sebagai contoh, akan ada
konsumen-konsumen yang mempunyai
kombinasi dari tingkatan-tingkatan ini.

Comments