Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pasar yang besar serta salah satu dari dua puluh kekuatan ekonomi besar dunia (G20). Sebagai negara berkembang, Indonesia memerlukan investasi untuk mengembangkan kekuatan ekonomi yang didukung dengan kebijakan stratgis. Kebijakan pegelolaan sector keuangan negara menjadi bagian penentu percepatan laju pertumbuhan ekonomi Negara berkembang seperti Indonesia. Beberapa bulan terakhir keuangan Negara menjadi sorotan utama beberapa ekonom, alasannya tidak lain karena utang luar negeri naik mencapai 4.000 triliun, "Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018 bulan Februari menembus angka Rp 4.034,8 triliun dan pada APBN 2018 mencapai Rp 4.772 triliun," INDEF (kompas.com). kondisi ini kemudian menimbulkan perdebatan berbagai kalangan (politisi, ekonomi dan masyarakat) sendiri. Maka dari itu penulis tergerak untuk sekedar memberikan pemahaman tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap utang luar negeri yang naik ?...

Menurut Praharjo, dkk Green Advertising merupakan salah satu strategi pemasaran yang mengkaitkan antara iklan dengan isu-isu lingkungan sehingga konsumen bisa membedakan dengan iklan iklan produk lainya. Selanjutnya Shamsuddoha, et. al., (1995) (dalam Nursanti ; Melisa 2011), menjelaskan pengertian Green Advertising sebagai semua kegiatan yang dirancang untuk menghasilkan dan fasilitas dari setiap pertukaran yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, seperti kepuasaan atas kebutuhannya dan keinginan yang terjadi dengan meminimalkan dampak lingkungan.
Mempromosikan
suatu produk dan jasa untuk memperoleh pasar dapat dilakukan dengan iklan, public relations, promosi penjualan, direct marketing, dan on-site promotions. Penjual produk hijau
yang cerdas akan dapat menekankan kredibilitas produk yang ramah lingkungan
dengan menggunakan sustainable marketing
juga alat dan praktek komunikasi (Queensland Goverment, 2002), dalam M,
Rahmansyah, (2013).
Para
pengecer banyak juga yang mulai menyadari perlunya komitmen pada lingkungan dengan melakukan promosi
penggunaan kantong ramah lingkungan sebagai pengganti kantong plastik.
Istilah-istilah seperti phosphate free,
recyclable, refillable ozon friendly,
dan ramah lingkungan adalah sesuatu yang paling sering disosialisasikan sebagai green marketing. Kunci sukses dari green marketing
adalah kredibilitas dengan tidak terlalu membesar-besarkan keunggulan
lingkungan pada produk atau membentuk harapan yang tidak realistis pada
pelanggan, maka komunikasi tentang
keunggulan lingkungan cukup
dilakukan melalui tokoh-tokoh yang dapat dipercaya (Haryadi, 2009).
Green Advertising memiliki perbedaan dengan periklanan sederhana. Suhud
(2002), dalam M, Rahmansyah, (2013). Hal yang paling menunjukkan perbedaan
ialah:
1.
Tidak seperti
harga, kualitas, dan fitur-fitur lain dampak lingkungan dari sebuah produk tidak akan selalu dapat dilihat
secara langsung dan mungkin tidak akan memengaruhi pembeli secara
langsung. Maka dari itu sering berbentuk
abstrak dan memberikan konsumen kesempatan untuk bertindak berdasarkan
kepedulian lingkungannya.
2.
Tidak seperti
iklan biasa yang lebih condong mempromosikan atribut yang dimiliki sebuah produk,
green advertising akan menegaskan
aplikasinya pada produk life cycle
dari bahan mentah, produksi, pendauran ulang, dan seterusnya.
3.
Perusahaan yang
menerapkan green advertising ini menyediakan insentif bagi manufaktur untuk
mencapai pengembangan lingkungan hidup seperti pengurangan dalam penggunaan
bahan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan dan pendauran ulang dengan cara
persaingan dengan basis tujuan untuk mengurangi dampak buruk yang dapat
berakibat kepada lingkungan hidup.
2.1.1
Hakekat Green Advertising
Karna
dan Juslin (2001), dalam M, Rahmansyah (2013) berpendapat bahwa green advertising adalah periklanan yang tampilannya berwawasan lingkungan.
Periklanan model ini dapat termasuk suatu seri dari elemen-elemen yang digunakan
untuk mengkomunikasikan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Sebagai contoh
iklan yang berorientasi kepada lingkungan dapat memuat satu atau lebih dari
hal-hal berikut: warna hijau, pemandangan alam, eco labels, pernyataan terhadap bahan baku, proses produksi ramah
lingkungan, maupun bisa didaur ulang. Selain itu, Karna dan Juslin (2001),
dalam M, Rahmansyah, (2013) mengatakan suatu iklan bisa dikatakan berwawasan lingkungan
jika memenuhi satu atau lebih dari kriteria berikut:
1.
Baik secara
eksplisit maupun implicit menunjukkan hubungan antara produk atau jasa dan lingkungan biophysical. Misalnya disebutkan bahwa produk yang diiklankan tidak
mengandung CFC sehingga aman bagi kelestarian lapisan ozon.
2.
Mempromosikan
suatu gaya hidup berwawasan lingkungan. Misalnya menganjurkan kepada konsumen
agar kemasan habis pakai dibuang ke tempat sampah.
3.
Menghadirkan
suatu corporate image yang mengandung enviromental responsibility. Misalnya
menghadirkan sertifikat ISO 14001 dalam iklannya.
Suatu produk yang dibuat oleh perusahaan
memiliki setumpuk keistimewaan yang bisa dijadikan klaim dalam iklan,misalnya
bahan baku yang digunakan,dari mana bahan baku itu diperoleh, bagaimana proses
produksinya, bagaimana dampak saat penggunaan, ataupun mau dikemanakan produk
itu setelah penggunaan. Beberapa hal
umum yang dijadikan klaim dari green
advertising antara lain adalah:
1.
Recycled.
Biasanya ditandai dengan symbol anak panah yang melingkar. Dimaksudkan bahwa
produk atau kemasan dari produk tersebut dapat didaur ulang.
2.
Ozone friendly.
Produk yang digunakan tidak mengancam lapisan ozon. Biasanya klaim dari
produk-produk lemari es.
3.
Biodegradable. Produk
tidak mencemari udara,angin,dan air.
4.
Phosphate Free.
Produk terbebas dari phosphate yang dapat mencemari lingkungan, khususnya air.
5.
Organic.
Produk telah menggunakan zat
organic tertentu untuk mengganti zat-zat kimia atau zat
lainnya yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan konsumen.
6.
Fat-free.
Produk bebas lemak seperti produk makanan ringan, permen.
7.
Non-toxic.
Produk tidak mengandung zat yang mengandung racun yang dapat mengancam
keselamatan konsumen. Digunakan zat-zat yang aman bagi kesehatan untuk
mengganti bahan kimiawi.
8.
Cuelty free. Produk dibuat tidak melalui percobaan terhadap
hewan, seperti produk obat-obatan maupun kosmetik.
Comments